Sengketa Lahan Pastori, GPDI Betlehem Lirung Masih Bergulir, Diduga Akan Dijual Pendeta

  • Whatsapp

SEPUTARSULUTNEWS, TALAUD – Polemik sengketa lahan dan bangunan Pastori Gereja GPDI Betlehem Lirung Kabupaten Kepulauan Talaud, menjadi buah bibir masyarakat Kabupaten Talaud.

Pasalnya lokasi lahan yang dibangun Pastori Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) Betlehem Lirung, tiba-tiba dipagari dan terpasang papan bertulislan, “Tanah / Bangunan Ini Milik Pdt Moudy Narasiang. Dijual dan Nomor Kontak”

Bacaan Lainnya

Dengan adanya polemilk lahan dan Pastori Gereja yang diduga akan di Jual Oleh Pendeta Sebelumya yang ditugaskan di Jemaat GPDI Betlehem Lirung, serta sudah menjadi buah bibir masyarakat.

Media ini mecari informasi ke Jemaat dan masyarakat yang tau cerita dari polemik itu. Menurut keterangan beberapa jemaat yang sejak awal mendirikan Gereja GPDI Betlehem Lirung menyebutkan, “Tanah dan bangunan Pastori itu, merupakan milik dari Jemaat GPDI Betlehem Lirung dari hasil sumbangan jemaat dan bantuan Proposal dari berbagai sumber. Bukan milik dari Pdt yang akan menjual lahan dan bangunan itu. Saat itu Pendeta juga dititipkan dana oleh Jemaat untuk membayarkan tanah yersebut ke Ibu Teresia Bokang yang ada di Jakarta,” ungkap salah Satu Jemaat yang tidak mau namanya di sebutkan.

Setelah di kalrifikasi langsung ke Pendeta yang akan menjual lahan serta bangunan itu lewat via telpon, Pendeta menuturkan, “Saya sebagai Gembala di GPDI Jemaat Betlehem Lirung Tahun 2008 silam, saya sedang diperpojokan dan dipermalukan dengan masalah yang lalu dan sudah selesai. Bersama jemaat yang ada, kami membeli tanah yang ada dan membangun Gereja GPDI Betlehem Lirung. Setelah beberapa lama, Gereja itu sudah tidak diakui oleh naungan organisasi Pimpinan Majelis Daerah. Setelah saya dimutasikan pada Tahun 2018 Ke Minahasa Selatan, Jemaat GPDI Betlehem Lirung sudah tidak diakui oleh Organisasi Pimpinan Majelis Daerah,” ungkap Pendeta.

Dasar Pendeta untuk menjual lahan dan bangunan pastori tersebut berdasarkan , “Biaya sendiri yang saya bayarkan langsung ke Ibu Tresia Bokang dan dilengkapi kwitansi dan materai, atas nama saya. Dana dibayarkan berjumlah Tiga puluh juta rupiah dari hasil penjualan lahan saya, seluruh bukti penjualan juga ada pada saya seperti sertifikat dan mereka semua tau. Saat ini, masalah lahan tersebut sementara saya selesaikan secara peribadi, ” tambah Pendeta Moudy.

Selaku Pendeta yang sementara memimpin Jemaat GPDI Betlehem Lirung Pdt Deni Korompis menuturkan, “Sangat menyesalkan tindakan yang diambil mantan Pendeta GPDI Betlehem,” singkat Pendeta Korompis. (Oke)

Pos terkait